Traveler Notes

Traveler Notes

Simple and Positive Thinking makes life so happy to be traveling more enjoyable

I do not paint a portrait to look like the subject, rather does the person grow to look like his portrait. Salvador Dali.

The things that I most like

Rules of The Physics of the Quest

If you brave enough to leave behind everything familiar and comforting which can be anything from your house to old grudge to someone and set out on truth seeking journey either eksternally or internally,

and if you heard truely willing to regard everything that happens to you on that journey as a clue

and if you accept everyone you meet along way as a teacher.

If you were prepared most of all to face and forgive some very difficult realities about yourself, than the truth will not be witheld from you.

Elizabeth Gilberth | Eat, Pray, Love.

"I decided very early; on just to accept life unconditionally; I never expected it to do anything special for me, yet I seemed to accomplish far more than I had ever hoped. Most of the time it just happened to me without my ever seeking it"

Audrey Hepburn

Bukit Jahanam

Nama daerah itu Kalibaru. Aku ingat betul nama daerah itu, daerah yang menyimpan salah satu childhood memories ku yg tak terlupakan. Kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan sebagai seorang anak yang terlahir di tahun 90an. Daerah Kalibaru, baru pertama kali aku ke tempat ini, tempat dimana alamnya sangat indah, dikelilingi bukit memanjang yang sangat terjaga sekali ekosistemnya. Udaranya sejuk tidak panas dan tidak dingin. Aku pikir cocok juga tempat ini sebagai tempat bermain.

Penyebab aku melancong ke daerah ini ialah bahwa keluarga besarku saat itu sedang melakukan acara tahunan, dimana di saat hari raya Idul Fitri kami semuanya berkumpul mengadakan suatu acara besar di tempat yang mempunyai suasana baru di tiap tahunnya. Kali itu Kalibaru merupakan salah satu tempat yang dipilih.

Waktu itu aku berumur tujuh tahun. Kami menginap disebuah cottage. Aku lupa nama cottage nya tetapi aku ingat betul cottage itu berlokasi di lereng bukit bukit. View belakang yang sangat indah, padang rumput hijau, dan dataran rendah dibawahnya yang asri. Malam hari kami berada di ruangan besar seperti aula dengan meja makan panjang beserta kursi-kursinya yang terletak di tengah ruangan. Acara saat itu adalah makan malam bersama. Kami semua menikmati tiap hidangan yang tersaji dan pembicaraan yang sangat hangat antar saudara, keponakan, sepupu, nenek, paman dan bibi, semua indah saat itu.

Esoknya, kami bermain di belakang cottage. Tempat yang bagus untuk bermain. I remember that place was beautiful. It looks like a park, ya tempat itu seperti taman, taman yang sangat luas, mungkin karena aku masih kecil jadi terlihat sangat luas. Aku bermain dengan penuh tawa bersama saudara-saudara sepupuku. Bermain petak umpet di tempat yang sangat luas, bermain kejar-kejaran, sepak bola, dan masih banyak lagi permainan anak-anak kali itu. Aku beruntung sekali masa kanak-kanakku berada di zaman yang masih jauh dari teknologi. Zaman dimana tidak ada yang namanya Tablet. Zaman dimana tidak ada yang namanya iPad. Zaman dimana tidak ada game-game online. Zaman dimana tidak ada social media. Anak-anak zaman sekarang mungkin belum pernah merasakan apa yang dirasakan anak-anak yang terlahir di tahun 90an disaat mereka bermain bersama. Mereka sudah disibukkan dengan gadgetnya masing-masing, sibuk dengan akun sosial medianya dan game-game onlinenya. I didn’t judge that children now is bad, but I think it has more better when they playing with his friends outdoor and leave their teknologi for a while.

Ditengah-tengah bermain, kami penasaran dengan salah satu bukit di belakang cottage kami. Bukit tersebut tidak jauh dari taman tempat kami bermain. Bukitnya tidak terlalu tinggi tapi jika mendaki ke puncakya cukup menguras keringat. Bukit tersebut tidak banyak tumbuh pepohonan, hanya beberapa pohon tumbuh di puncaknya, sisanya hanya rumput hijau dan semak belukar. Rasa ingin tahu kami saat itu membawa kami mendaki ke puncak bukit tersebut. Sesampainya di puncak bukit, kami disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Seluruh cottage bisa kami lihat mulai dari belakang sampai dengan bagian depan, dan jalan raya. Semua terlihat nampak kecil.

Setelah puas menikmati pemandangan, kami beranjak turun. Tetapi ada salah satu sepupuku yang mempunyai ide gila. Sebuah ide yang saat itu memang diluar akal sehat ku sebagai anak kecil. Menuruni bukit dengan cara balapan lari, itu ide gilanya. Dengan penuh semangat maka semua bersiap-siap dengan posisi start yang sempurna. Aba-aba pun diteriakkan. Go!!!! Kami semua berlari berusaha keras menjadi juara satu. Tetapi apalah daya, jalan menurun dan berlari dengan cepat membuat kami semua berjatuhan dan bergelundung berkali-kali hingga sampai ke tanah datar. Hasilnya, tidak ada yang menjadi pemenang. Aku tidak merasa sakit sedikitpun dan itu juga dirasakan dengan para sepupuku. Walaupun jatuh berguling-guling kami tidak merasakan sakit sedikitpun. Rasa tidak sakit tersebut membuat kami melakukan hal serupa dan dilakukan berulang kali. Mendaki ke puncak bukit dan berlari hingga jatuh berguling-guling hingga kaki bukit begitu seterusnya berulang kali. Tidak ada yang menangis satupun karena kesakitan, yang ada malah tawa riang gembira anak-anak yang mempunyai permainan baru. Seperitnya bukit itu menyimpan misteri. Aku tidak merasakan sakit dan luka sedikitpun, yang ada malah bekas tanah yang menempel di baju dan celana kami. Suatu misteri yang belum terungkap hingga sekarang. Bukit yang membuat ketagihan untuk melakukan hal gila. Akhirnya kami sepakat untuk menamakan bukit tersebut, Bukit Jahanam. Bukit yang menyimpan misteri dan membuat kami ketagihan untuk berjatuhan dari atas hingga kebawah hingga kami dimarahi oleh orang tua kami karena kami mengotori baju dan celana kami.


Limabelas tahun kemudian, aku kembali mengunjungi Kalibaru. Petunjuk penduduk sekitar mengantarku ke tempat dimana aku menginap kala itu. Ternyata cottage nya masih ada dan tidak berubah sedikitpun lobby dan bangunannya, hanya ada perubahan pada desain interior nya serta furniture nya. Aku bergegas ke belakang cottage, ke taman belakang dimana aku bermain dengan sepupu-sepupuku. Aku rindu dengan tempat bermain masa kecilku.

Aku terkejut dan sedikit tidak percaya apa yang aku lihat saat itu. Kalian mungkin boleh percaya boleh tidak. Yang aku lihat adalah Bukit Jahanam telah hilang. Aku coba ingat-ingat betul lokasinya dan hasilnya nihil. Bukit Jahanam telah hilang. Lantas aku bepikir, jadi kemanakah bukit yang telah membuat kami ketagihan bermain disana? Siapapun tidak mengetahuinya, bahkan petugas dan karyawan hotel pun tidak mengetahui keberadaan bukit itu.

Aku sedih tidak bisa menemukan bukit tersebut. Aku sedih karena tempat yang dulu menyimpan kenangan masa kecil telah hilang. Hingga pada akhirnya aku sadar. Dalam benak hati kecilku seakan membisikkan sesuatu kepadaku, “Hey, Bukit Jahanam tidak hilang. Dia masih ada dan hidup dalam memori kenangan masa kecil kami dimasa itu.” Kemudian aku berjalan pulang. Aku tersenyum.

True Story: One of My Childhood Memories,was written at Jember | 8 February 2014

Surakarta | 13 February 2014

Candlelight

Duduk dengan cahaya lembut 

Membaca buku

Kesederhanaan

Teras Rumah, Jawa Tengah | 4 Februari 2014

Manis dan Sederhana

Sebuah Pusaran Pikiran.

Duduk dibawah Pohon Mangga.

Sebuah notebook, pena, dan secangkir teh.

Halaman Rumah, Jawa Tengah | 3 Februari 2014

A Princeless Princess

Once upon a time, there lived an average girl. She was nothing special –nothing to distinguish her by. She went about her life, watching and reading all the princess stories out there and wishing that she too, would meet her Prince. She held on to that hope, clinging to it for dear life. 

It was pathetic, really. Over the years, she began to lose that hope. It turned into disappointment and then rage. Why had society lied to her? Why had it led her to believe that there was a Prince out there for her? She had waited patiently for him, doing nothing of interest with her life because according to the stories, happiness didn’t come until your Prince did. 

Her impatience continued to grow as did her loneliness. Finally, she snapped. She sobbed in heartbrokenness over a man she had never met and never would. No Prince or gallant knight would come to sweep her off her feet. Society had lied. 
As she reached this conclusion, she realized with a start, it was okay. She could be stronger than any Princess had ever been, she could strike off on her own without a man to make her happy. She would be alone but that was alright. She would find a place for herself in this world, she would make something of this life, and she would prove that she could do it alone. She would find happiness, she vowed to herself. Nothing would slow her down. 

But it was easier said than done. Years of waiting on a Prince to rescue her was a difficult habit to break. It took a lot of pushing to get anywhere and more importantly, she found that she didn’t have to be alone but she didn’t have to wait on a Prince. She made friends, friends that loved her and helped her when she couldn’t move along in life on her own. They became her motivation but she learned that she did not have to depend on them either. At first, she did but eventually, she learned that she could do things on her own without someone there. She could explore the world and see the beauty of it, alone. 

The most important thing she learned was that alone did not mean loneliness.

Rumah, Jawa Tengah | 1 Februari 2014

One Wish

One Wish

If I had one wish
It would probably be for lots of money
If I had two
My second would seem less funny

I would wish that we never fight
Hold each other every night
Awake each day to morning light
But we already have that right?

So, I would wish that you could see
Everything you mean to me
How with you I am truly free
But you know this, do you agree?

I guess my second wish is already true
I truly love my life with you
We grow better every day
I love you more in every way.

Rumah, Jawa Tengah | 31 Januari 2014

A Letter for Us

We are super duper awesome team.

Guys, you know I really miss you all so much. Aku belum tahu kapan kita bisa jalan-jalan lagi, menikmati indahnya dunia bersama-sama. Sudah lama ya kita ga nge-trip lagi. It’s feels like hidup ini cuma sekedar pagi, siang, malam. Yang artinya it was totally bored. Hidup memang kurang berwarna, Monoton. But, aku pikir itu bagus juga, that’s totally not that bad.

Setelah aku pikir kalo kita ketemu tiap hari malah jatuhnya lama-lama juga bosan. Tiap hari ketemu membicarakan hal yang itu-itu saja. Sepertinya memang untuk saat ini kita ga ketemuan dulu kali yak, I mean ga ada trip. By the way, lagipula aku juga dapat kutukan buruk yang ditakutin para mahasiswa. Menjadi Mahasiswa Veteran. Dat ass.

Sometimes we need a break. And going to beautiful places, alone. To figure everything out. Ya, mungkin sebaiknya kita jalan sendiri dulu, nah baru kalo ada waktu yang tepat untuk kita kumpul, maka kita kumpul di suatu tempat yang keren. Which is good. Oh, aku pikir pasti bakalan seru.

Banyak hal yang bisa kita share saat kita jalan sendiri pada saat kita hangout bareng nantinya. Maybe that’s what we need, aku jadi lebih fokus untuk menyelesaikan TA, dan yang lain juga fokus untuk menjadi jobseeker, dan mungkin ada yang sdh bekerja. I’m saying, selamat buat yang udah diterima bekerja, yang belum, tetap semangat. Ohh, buat yang melanjutkan kuliah S2, aku salut untuk semangat belajarnya yang tiada henti.

Aku udah ga sabar dan penasaran kapan Tuhan bisa mempertemukan kami semua di waktu yang tepat dan di saat yang tepat. We just cannot stop praying for us for better future to each others.

Last but not at last, sampai pada akhirnya aku harus menutup tulisan ini. Tidak perlu panjang lebar, kalo panjang kasian ceweknya, kalo lebar kasian cowoknya. Forget about it. Anyway, I’m waiting for your amazing story guys. I just hope that kalian semua diberi kesehatan dan panjang umur supaya kita bisa dipertemukan lagi dilain waktu. Salam buat keluarga masing-masing.

With love,
A

50 things a traveler should know

50 Things a Traveller Should Know

Check out our blog post here

 Being single is not that bad (I think)

Dunia itu “Huge”.

Dan cara terbaik untuk menikmatinya adalah sebagai single, gimana ga menyenangkan, gue bisa pay attention ke hal-hal yang gue suka dan gue bisa ngatur hidup gue dengan cara yang gue mau.

Percara deh, semua hal yang ada di hidup gue itu teratur banget.

Siapa sih yang butuh pacar? Toh koneksi dengan manusia lain bisa elo lakuin lewat sosial media, bukan berarti gue ga percaya sama cinta, tapi ngapain maksain kalo elo belum ketemu yang bener-bener in ship to elo.

In the meantime, nikmatin aja hidup sendiri, ga musti ngasih perhatian ke pacar elo, dan ga ada yang nagging.

from: Durable Love (short film)

Adil

Tuhan jelas memberi cara yang berbeda-beda dalam penghidupan setiap manusia di bumi ini.

Maha Adil, adalah bukan karena Tuhan menciptakan semua manusia hidup dalam keadaan yang sama, dari mulai kelahiran, kehidupan sampai kematian.
Jelas Ia menciptakan semuanya dengan sangat, sangat beragam. Ada yang lahir dalam keadaan kaya, dengan wajah tidak rupawan, atau fisik yang terbatas. Tapi itu semua bukan berarti Tuhan tidak adil.

Adil disini –mungkin adalah Ia yang senantiasa memberikan kesempatan bagi makhluk-Nya untuk memilih, untuk tidak memaksa atau mengekang, Ia beri semua manusia 2 hal yang sama, ruh dan raga yang lalu menyatu, dengan indera dan organ masing-masing. 

Kesemuanya diberikanNya untuk kemudian digunakan manusia sesuai pilihan masing-masing. Hingga nanti pada satu atau beberapa titik yang tepat, Tuhan mengulurkan tangan untuk mereka yang Ia rasa pantas mendapatkan tuntunan, meski manusia jarang sekali sadari itu. 

Itulah –mungkin arti Maha Adil yang sebenarnya.

Disuatu tempat pengasingan diri | 20 Januari 2014.

Khayal

Suatu hari nanti saya dan Anda -yang entah siapa- akan duduk di kursi, di teras belakang rumah kita yang asri.

Ditemani seekor  kucing yang ekspresi wajahnya kerapkali artifisial. Kita berbincang seru, tertawa, bertukar canda, seperti biasanya, kali itu kita tertawa kecil setelah melihat foto cucu kita dari media digital yang entah apa namanya itu.

Mungkin bukan lagi iPad3 atau iPad mini. Mungkin hologram, mungkin iWall.

Anda, anehnya, tidak pernah bosan dengan saya, ketika waktu di sekitar kita seolah inersia saat kita bersama.

Anda, yang selalu mencari saya, karena tanpa saya, Anda belum lengkap, dan sebaliknya.

Indah ya, begitu ideal, meski sedikit naif.

Tapi saya percaya itu akan ada.

Disuatu tempat pengasingan diri | 19 Januari 2014